Kiat orang tua jika anak terdiagnosa sebagai autisme.
Pelajarilah mengenai autism.
Cobalah pelajari mengenai autisme dari buku, seminar, dokter dan para orang tua lain yang lebih berpengalaman karena anaknya telah terdiagnosa lebih dahulu daripada anak anda. Banyak hal2 positif yang bisa anda pelajari.
Pelajarilah berbagai jenis terapi autisme, sambil tetap menjalani hidup yang serasi.
Pelajarilah berbagai jenis terapi buat anak autis, sehingga anda tahu apa yang sedang dilakukan pada anak anda. Cermatilah terapi yang mana yang cocok untuk anak anda, karena tidak semua terapi cocok untuk setiap anak. Janganlah jadikan terapi menguasai kehidupan anda. Juga jangan membebani anak anda dengan terapi yang berlebihan. Ada waktu untuk terapi, tapi juga ada waktu untuk bersantai dengan anak anda.
Carilah bantuan dan nasihat dan pilihlah yang mana yang cocok untuk anda dan anak anda.
Bila anak anda sudah usia sekolah, carilah sekolah yang mau menerima anak anda , dimana para guru juga siap membantu dan mengerti tentang mendidik anak dengan kebutuhan khusus. Berkolaborasilah dengan guru tentang pendidikan anak anda. Bawalah guru anak anda untuk mengikuti seminar2 tentang autisme. YAI mengadakan seminar tiap tahun untuk para guru sekolah umum yang menerima anak dengan berkebutuhan khusus.
Hargai, cintai dan belajarlah dari anak anda.
Anak anda mempunyai banyak kekurangan. Janganlah memaksanya untuk segera bisa mengatasinya. Misalnya kalau dia tidak mau memakai baju yang kasar karena kurang nyaman baginya, janganlah mencoba memaksanya. Pastikanlah bahwa anak anda merasa bahwa anda menyayanginya. Tak usah merasa malu dengan kelainannya. Bila ada orang tua lain yang bertanya , katakanlah sejujurnya bahwa anak anda mempunyai gejala autisme. Autisme bukan sesuatu yang memalukan, bukan penyakit dan tidak menular.
Tetap sabar dan bersikap positif.
Banyak anak yang mempunyai gejala2 autisme yang berat pada waktu kecil, ternyata bisa berkembang dengan sangat baik. Jadi tetaplah bersikap positif, karena semuanya ini merupakan proses yang panjang.
Belajarlah untuk menghargai dan menyangi anak anda, betapapun aneh perilakunya. Hargailah dia sebagai insan yang memang mempunyai sifat berbeda dan janganlah menyoroti hal2 yang negatifnya saja.
Jangan meremehkan kemampuan dan pengertiannya. Beberapa kasus autisme yang terlihat berat, setelah bisa berkomunikasi, misalnya dengan mengetik, ternyata mempunyai intelegensi yang tinggi.
Bersabarlah, dan terimalah keadaan. Persiapkan diri anda untuk menjalani suatu perjalanan yang panjang. Suatu hal yang sangat baik mungkin menanti diujung perjalanan anda.
Bantulah anak anda mengembangkan kemampuan dan minatnya.
Bila minatnya mengumpulkan berbagai jenis serangga dikebun, kembangkanlah untuk menjadi seorang peneliti. Janganlah dipaksa untuk melakukan hal-hal yang lain. Bila berbakat musik, olah raga , menggambar atau computer, arahkanlah kearah itu.
Carilah terapis yang terbaik.
Kadang2 terapis yang melakukan terapi pada anak anda tidak berhasil dan anak mengalami stress. Sebaiknya gantilah dengan terapis lain.
Terapis yang baik untuk anak anda adalah yang berhasil mendorong kemajuan perkembangan anak anda.
Pikirkanlah untuk memperbaiki diet anak anda.
Buatlah catatan makanan anak anda setiap hari dan catatlah juga perilakunya. Dalam satu -dua bulan anda akan mendapat pola makanan mana yang membuat perilaku anak anda jadi lebih hiper, agresif dan marah2. Kemudian hilangkanlah makanan tersebut dari menunya. Anak autistik mempunyai kecenderungan alergi yang banyak terhadap berbagai jenis makanan.
Perhatikan juga pencernaannya dan jangan lupa melapor pada dokter anak anda.
Berilah waktu dan ruang untuk diri anda sendiri.
Anda boleh bersedih karena “kehilangan” anak anda. Secara fisik dia ada, tapi anda telah kehilangan anak yang anda inginkan. Ditempatnya ada anak yang samasekali berbeda.
Pada saat yang sama cobalah untuk mengenal dan mencintai anak yang baru ini.
Berilah waktu dan ruang untuk anda sendiri. Pergilah berekreasi dengan teman2 anda, lakukanlah hal2 yang anda sukai dan anda akan lebih merasa kuat untuk menghadapi lagi anak anda yang sulit.
Cintai dan terimalah anak anda sebagaimana adanya.
Hal inilah yang sangat penting. Perasaan bahwa anda menyayangi mereka dan menerima mereka sebagaimana adanya akan membantu memajukan mereka lebih dari segalanya .
sumber: www.autisme.or.id
[email_link]
Ibu dan Penyakit
Seringkali dengan alasan ibu sakit penyusuan dihentikan, padahal dalam banyak hal ini tidak perlu. Karena lebih berbahaya bagi bayi bila mulai diberi susu formula daripada terus menyusu dari ibu yang sakit. Keadaan ini dapat dibenarkan untuk menghentikan penyusun adalah bila skit ibu sangat berat misalnya kegagalan jantung atau ginjal atau menderita kanker. Pada ibu dengan gangguan jiwa pun masih dianjurkan untuk menyusui asalkan ada orang yang mengawasinya pada saat-saat tersebut. Ibu dengan penyakit infeksi akut lebih sering menularkan melalui tangan atau percikan ludah daripada melalui ASI. Di samping itu do dalam ASI akan terdapat zat anti terhadap penyakit yang diderita ibu sehingga bila bayi menyusu akan mendapat zat penangkal penyakit tersebut. Bila ibu terpaksa harus dirawat, jika terdapat fasilitas, bayinya dianjurkan ikut dirawat bersama ibunya agar aktivitas menyusui tidak terhenti.
Ibu dengan HIV/AIDS
Bayi dari ibu dengan HIV/AIDS sebanyak kurang lebih 20% sudah terinfeksi HIV secara transmisi vertikal. Namun apabila pengobatan dengan obat antiretroviral diberikan beberapa lama sebelum persalinan dan diikuti dengan pencegahan cara lain seperti persalinan melalui bedah kaisar dan pencucian jalan lahir transmisi vertikal ini dapat diturunkan sampai menjadi 2%. Apabila ibu menyusui akan bertambah penularan melalui ASI sebanyak kurang lebih 11-15%, sehingga di negara maju terdapat angka kematian dan kesakitan bayi yang tidak mendapat ASI sudah rendah, ibu dianjurkan untuk tidak menyusui bayinya.
Namun di negara berkembang masih banyak terdapat ibu yang tidak memberikan ASI akan mempunyai morbiditas dan mortalitas yang masih tinggi, maka ibu dianjurkan tetap memberi ASI. Apabila sudah diketahui sejak lahir bahwa bayi telah tertular (dengan pemeriksaan PCR) maka dianjurkan agar ibu tetap memberi ASI, karena ASI akan melindungi bayi dari infeksi lain yang menyertai AIDS atau statusnya tidak diketahui maka ibu tetap dianjurkan untuk memberikan ASI. Bila ibu diketahui mengidap HIV/AIDS ada beberapa alternatif yang dapat diberikan dan setiap keputusan ibu setelah mendapat penjelasan perlu didukung.
- Bila ibu memilih tidak memberikan ASI maka ibu diajarkan memberikan makanan alternatif yang benar dan di negara berkembang sewajarnya makanan alternatif ini disediakan secara cuma-cuma untuk 6 bulan.
- Bila ibu memilih memberikan ASI maka dianjurkan untuk memberikan ASI secara eksklusif selama 3-4 bulan kemudian menghentikan ASI dan bayi diberi makanan alternatif. Perlu diusahakan agar putting susu jangan sampai terluka karena virus HIV dapat masuk melalui luka. Di samping itu jangan diberikan ASI bersama susu formula karena susu formula akan menyebabkan luka di dinding usus yang menyebabkan virus dalam ASI lebih mudah masuk.
Maka WHO menganjurkan pada setiap wilayah/negara untuk memilih sendiri apakah akan melarang atau menganjurkan ibu dengan HIV + menyusui bayinya.
Ibu dengan hepatitis B
Sampai saat ini pandangan mengenai boleh tidaknya seorang ibu dengan HbsAg+ menyusui bayinya didasarkan atas dasar yang serupa dengan HIV. Walaupun virus hepatitis B dapat melalui ASI tetapi belum ada laporan adanya penularan melalui ASI. Kolostrum ternyata tidak mengandung virus hepatitis B mungkin oleh karena kolostrum mengandung SigA dan interferron yang dapat membunuh virus hepatitis B. Lagi pula apabila ibu mendapat hepatitis B selama hamil maka lebih dari 50% bayi telah mendapat infeksi intra-uterin, sehingga bayi tidak perlu dilarang mendapat ASI. Hanya dianjurkan dalam 24 jam pertama bayi mendapat imunoglobulin spesifik hepatitis dan dilanjutkan dengan pemberian vaksinasi.
Ibu dengan TBC paru
Kuman TBC tidak melalui ASI sehingga bayi boleh menyusu. Ibu perlu diobati secara adekuat dan diajarkan pencegahan penularan pada bayi dengan menggunakan masker. Bayi tidak langsung diberi BCG oleh karena efek proteksinya tidak langsung terbentuk. Walaupun sebagian obat anti INH dengan dosis penuh sebagai profilaksis. Setelah 3 bulan pengobatan secara adekuat biasanya ibu sudah tidak menularkan lagi dan setelah itu pada bayi dilakukan uji Mantoux. Bila hasilnya negatif terapi INH dihentikan dan bayi diberi vaksinasi BCG. By IDAI.or.id Penulis : Rulina Suradi