Tips Puasa Sehat di Bulan Ramadhan Bagi Anak Dengan Diabetes Melitus Tipe 1

Diabetes tidak menghalangi anak untuk menjalankan ibadah puasa Ramadhan. Bagi anak-anak ini diperlukan strategi khusus agar kadar gula darah tetap stabil dan terpantau selama berpuasa, sehingga mereka tetap sehat dan terhindar dari komplikasi.

Perubahan metabolisme selama berpuasa

Puasa yang berlangsung 12-13 jam tidak akan mengganggu kesehatan bagi orang sehat maupun penyandang diabetes melitus (DM) tipe 1 yang kadar gula darahnya terkontrol. Namun pada diabetes yang tidak terkontrol, risiko ketoasidosis (salah satu komplikasi akibat kadar gula darah yang tinggi) meningkat. Di samping itu, gula darah yang tidak terkontrol juga dapat menyebabkanpoliuria (bertambahnya pengeluaran air kemih) yang berujung pada dehidrasi. Oleh karena itu, puasa hanya disarankan bagi penyandang diabetes yang memilih kontrol gula darah yang baik.

Karena adanya perubahan di atas, anak dengan DM tipe 1 perlu melakukan beberapa penyesuaian dalam hal diet, penggunaan insulin, dan aktivitas fisik.

Diet

Saat berpuasa,secara alami akan terjadi penurunan aktivitas fisik dan asupan makanan. Oleh karena itu, jumlah asupan kalori harus disesuaikan dengan jumlah kebutuhan sehari-hari dengan komposisi 15-20% protein, 60-65% karbohidrat dan 20-25% lemak. Porsi makan yang diberikan sebagai berikut:

50% total kalori saat berbuka.Sebelum shalat maghrib disarankan mengonsumsi makanan ringan/segar, diikuti makanan padat/besar sebaiknya sesudah shalat maghrib;
10% dari total kalori diberikan setelah salat tarawih berupa snack;
40% dari total kalori diberikan saat sahur.

Penyandang DM tipe 1 dianjurkan untuk menyegerakan berbuka dan mengakhirkan makan sahur. Hindari pula mengonsumsi makanan secara berlebihan, khususnya gula murni. Selain itu, disarankan juga untuk menjaga asupan cairan lebih kurang 1500-2000ml sehari.

Insulin

Untuk mencegah hipoglikemia (menurunnya gula darah secara ekstrem), perlu dilakukan penyesuaian dosis insulin. Selama berpuasa, total insulin yang diberikan sehari sekitar 75-80% dari total dosis harian saat tidak berpuasa. Pemberian dilakukan sebagai berikut:

Dua kali pemberian dengan insulin kerja pendek dan menengah(split-mixed). Dua pertiga dosis harian diberikan saat sebelum berbuka dan 1/3 saat sahur.
Dua kali pemberian menggunakan insulin kerja panjang dan pendek (basal-bolus): Total insulin kerja panjang diberikan 80% dosis saat tidak puasa, dosis insulin bolus dibeirkan sesuai kalori makanan.
Penderita dengan pompa insulin: dosis insulin basal diturunkan menjadi 80% dosis tidak puasa. Dosis bolus disesuaikan dengan kalori makanan.

Aktivitas harian

Saat berpuasa, kegiatan sehari-hari dapat dilakukan seperti biasa. Namun, penyandang DM tipe 1 dianjurkan untuk istirahat sejenak setelah zuhur. Olahraga ringan sampai sedang sebaiknya dilakukan malam hari sesudah salat tarawih dengan tetap memperhatikan asupan kalori. Selain itu, perhatikan pula tanda-tanda hipoglikemia saat sedang berolahraga.

Bila terjadi hipoglikemia, sebaiknya olahragasegera dihentikan dan diberikan makanan kecil atau minuman yang mengandung gula. Para penyandang DM tipe 1 juga harus segera membatalkan puasanya bila didapatkan gejala hipoglikemia padasiang hari. Tanda hipoglikemia antara lain rasa lemas, berdebar, pandangan kabur, dan keringat dingin.

Sekali lagi, puasa Ramadhan pada anak dengan DM tipe 1 bukanlah kewajiban mutlak seperti halnya pada orang sehat. Namun bila tetap ingin berpuasa Ramadhan, lakukanlah puasa secara aman dengan manajemen diet, insulin, dan aktivitas harian yang tepat. (Sumber Idai.or.id)

Disentri

Disentri merupakan kumpulan gejala penyakit seperti diare berdarah, lendir dalam tinja, dan nyeri saat mengeluarkan tinja. Praktisnya, diare berdarah dapat digunakan sebagai petanda kecurigaan terhadap disentri.

Penyebab disentri adalah infeksi bakteri atau amuba. Infeksi yang disebabkan oleh bakteri dikenal sebagai disentri basiler dan merupakan penyebab tersering disentri pada anak. Shigella dilaporkan sebagai penyebab tersering disentri basiler pada anak. Sedangkan infeksi yang disebabkan oleh amuba dikenal sebagai disentri amuba. Selain diare berdarah, anak juga mengalami demam, nyeri perut terutama menjelang buang air besar, pada pemeriksaan tinja rutin didapatkan jumlah leukosit dan eritrosit yang meningkat, dan pada pemeriksaan biakan tinja dapat dijumpai kuman penyebab. Nyeri perut saat buang air besar (tenesmus) seringkali tidak terlihat pada anak yang usianya lebih muda karena mereka umumnya belum dapat menggambarkan keluhan tersebut.

Infeksi menyebar melalui tangan, makanan maupun air yang terkontaminasi, dan biasanya terjadi pada daerah dengan kebersihan perorangan yang buruk. jumlah Shigella yang diperlukan untuk menyebabkan penyakit sangat kecil. Sekitar 15 persen dari seluruh kejadian diare pada anak di bawah usia 5 tahun adalah disentri.

Disentri umumnya respon terhadap antibiotika yang sensitif terhadap shigella. Anak dipantau setelah 2 hari, untuk melihat tanda penyembuhan, antara lain tidak ada demam, frekuensi buang air besar dan volume tinja berkurang dengan jumlah darah minimal atau menghilang, dan meningkatnya selera makan. Apabila tidak ada perbaikan dalam 3 hari, harus dipikirkan keadaan lain, pertimbangan penggantian antibiotika. Bila kondisi mengkhawatirkan anak harus dirawat. Bila ada fasilitas penunjang laboratorium dapat dilakukan pemeriksaan terhadap amuba pada tinja. Disentri yang lebih berat dilaporkan pada bayi yang tidak mendapat ASI dan pada anak dengan gizi kurang.

Pencegahan disentri dapat dilakukan dengan cara yang sangat sederhana, melalui kebersihan diri dan lingkungan. Kebersihan diri dimulai dengan mencuci tangan. Tak hanya tangan anak tetapi juga orangtua serta pengasuh. Kuman yang terdapat pada tangan yang sudah menjamah keberbagai tempat dapat dicegah melalui cuci tangan dengan sabun.

Anak dengan disentri bisa mengalami dehidrasi, terlebih bila tidak diimbangi dengan asupan cairan yang cukup. Dehidrasi terjadi karena banyaknya cairan yang keluar melalui diare. Anak dengan disentri sebaiknya diberi minum yang cukup, terutama bila mereka mengalami demam. Infus diberikan bila anak mengalami dehidrasi berat atau sulit mendapat asupan makan karena hilang nafsu makan. Selama anak masih mau minum dan makan dalam jumlah cukup, infus tidak perlu diberikan.

Memang, memberi makan cukup sulit karena hilangnya nafsu makan. Makanan yang diberikan hendaknya dalam porsi sedikit namun sering. Upayakan anak agar mau makan. Pilih makanan kaya energi dan zat gizi yang disukai anak. Berikan pula satu kali makanan tambahan setiap hari dengan menu yang sama setidaknya selama 1 minggu setelah diare berhenti. Pemberian ASI sangat dianjurkan pada bayi yang mengalami disentri. (oleh :Dr. Badriul Hegar, PhD. SpA(K))

Intoleransi Laktosa

Intoleransi laktosa dan diare merupakan dua keadaan yang hampir selalu terjadi bersamaan pada anak. Pemahaman kedua hal tersebut penting untuk mendapatkan tata laksana yang optimal.
Diare

Secara umum seorang anak (kecuali bayi di bawah usia 2 bulan) dikatakan menderita diare bila frekuensi BAB bertambah dari biasanya (>3 kali/hari) dengan konsistensi tinja cair. Data epidemiologi memperlihatkan bahwa rotavirus (60%) merupakan penyebab tersering diare akut pada anak usia di bawah 3 tahun.
Pencernaan dan penyerapan laktosa

Laktosa adalah sumber karbohidrat terpenting dalam ASI dan susu formula. Hampir semua laktosa yang masuk usus halus dihidrolisis (dipecah) menjadi glukosa dan galaktosa oleh enzim laktase yang terdapat pada mikrovili epitel usus halus. Hasil hidrolisis akan diserap dan masuk ke dalam aliran darah sebagai nutrisi. Pada diare (terutama akibat rotavirus) terjadi kerusakan mikrofili sehingga enzim laktase terganggu dan berkurang.
Intoleransi laktosa

Intoleransi laktosa adalah gejala klinis akibat tidak terhidrolisnya laktosa secara optimal di dalam usus halus akibat enzim laktase yang berkurang. Gejala klinis yang diperlihatkan yaitu diare profus, kembung, nyeri perut, muntah, sering flatus, merah di sekitar anus, dan tinja berbau asam.

Tata laksana

Sebagian besar diare pada anak self-limited diseases, sehingga jangan terburu-buru memberikan antibiotik dan mengubah diet. Tatalaksana utama adalah mencegah dehidrasi dan gangguan nutrisi.
Langkah optimal tata laksana diare

Pemberian cairan rehidrasi oral (CRO) hipotonik
Rehidrasi cepat (3-4 jam)
ASI harus tetap diberikan
Realimentasi segera dengan makanan sehari-hari
Susu formula yang diencerkan tidak dianjurkan
Susu formula khusus diberikan sesuai indikasi
Antibiotik hanya berdasarkan indikasi kuat.

Kapan diperlukan susu formula khusus ?

ASI harus terus diberikan selama diare, karena selain memenuhi kebutuhan nutrisi anak, ASI juga mengandung zat zat kekebalan terutama untuk saluran cerna yang sangat dibutuhkan untuk penyembuhan diare yang sedang berlangsung. Kandungan tersebut tidak terdapat pada susu formula. Pada bayi yang oleh karena sesuatu sebab tidak dapat mendapat ASI secara ekslusif, maka pertimbangan penggantian susu juga harus dilakukan secara rasional.

Pertimbangan penggantian susu formula selama diare akut (diare kurang dari 7 hari), sebagai berikut :

Diare tanpa dehidrasi dan dehidrasi ringan-sedang : susu formula normal dilanjutkan
Diare tanpa dehidrasi atau dehidrasi ringan-sedang dengan gejala klinis intoleransi laktosa yang berat (selain diare) dapat diberikan susu formula bebas laktosa.
Diare dengan dehidrasi berat diberikan susu formula bebas laktosa
Pemberian susu formula untuk alergi pada anak dengan diare akut tanpa jelas petanda alerginya adalah tidak rasional.

Diare yang perlu dibawa segera ke dokter atau petugas kesehatan terlatih

– Tidak terlihat perbaikan klinis dalam 3 hari

– BAB sangat sering dengan tinja sangat cair

– Muntah berulang-ulang

– Sangat haus sekali

– Makan dan minum sedikit

– Demam

– Tinja bercampur darah

Oleh : Dr. Badriul Hegar, PhD. SpA(K)
Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI – RS Dr. Cipto Mangunkusumo