Antibiotik Dini, Beresiko Asma Pada Anak

[ratings]

Sebuah publikasi dalam Journal Watch Pediatrics and Adolescent Medicine tanggal 18 Juli 2007 melaporkan suatu hasil penelitian “population based”, dimana dilakukan penelitian longitudinal yang terhadap 13.116 anak di Kanada yang lahir pada tahun 1995 dan mendapat pengobatan dengan antibiotik dalam tahun pertama kehidupan untuk mempelajari faktor-faktor resiko terjadinya asma pada anak. Anak yang didiagnosis menderita asma dalam tahun pertama kehidupan dikeluarkan dari penelitian.

Ternyata 65 % anak mendapat antibiotik dan terbanyak antibiotik berspektrum luas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hubungan antara terjadinya asma dan penggunaan antibiotik meningkat pada anak-anak yang tinggal di perdesan, tidak mempunyai riwayat asma pada ibu, tidak ada riwayat memiliki hewan peliharaan terutama anjing di rumah dan mereka yang mendapat antibiotika berulang kali. Hubungan antara terjadinya asma dan luas spektrum antibiotika juga bermakna, sedang dengan antibiotika spektrum sempit ternyata tidak bermakna.

Anak yang mendapat antibiotik untuk penyakit infeksi bukan saluran nafas ternyata mempunyai resiko menderita asma dua kali lebih besar pada usia 7 tahun dibandingkan yang tidak mendapat antibiotik. Penelitian ini mengkonfirmasikan hasil penelitian sebelumnya bahwa penggunaan antibiotik yang terlalu dini pada anak (usia kurang dari 1 tahun) terutama antibiotik yang berspektrum luas, meningkatkan resiko terjadinya asma pada anak sehingga dianjurkan untuk tidak memberi antibiotik terutama yang bersektrum luas kepada anak usia kurang dari 1 tahun apabila tidak sangat diperlukan.

Penulis: Rihi Here Wila, IDAI

[email_link]

Apakah Anak Saya Asma ?

Banyak anak asma yang tak terdiagnosis penyakitnya sehingga ditangani sebagai penyakit lain dan keluhannya tak kunjung reda. Mengapa ? Dalam hal kesehatan dan penyakit, banyak di antara kita menilai anak seperti orang dewasa. Inilah pangkal masalahnya. Anak bukan orang dewasa dalam ukuran kecil, jadi berbeda dengan orang dewasa. Banyak aspek kesehatan dan penyakit yang berbeda pada anak dibanding orang dewasa.

Untuk penyakit sama, gejalanya yang menonjol bisa berbeda antara pasien anak dan dewasa. Sebaliknya, gejala yang sama, misalnya batuk, bisa mengarah ke penyakit yang berbeda anatara anak dan dewasa. Karena itu, orang tua perlu memahami gejala pada anak yang patut dipikirkan kemungkinan ke arah asma.

Asma pada anak tidak selalu memberi gejala sesak dan napas berbunyi (mengi) seperti orang dewasa. Sering kali gejala yang menonjol hanya batuk, tapi bukan sembarang batuk. Lalu, batuk seperti apa yang patut diduga asma? Batuk yang “bandel”.

Pengertian “bandel” mencakup beberapa keadaan yang mirip, yaitu batuk berlangsung lama (dua minggu lebih), sulit sembuh, timbul berulang dalam jangka pendek, atau membaik sebentar namun timbul lagi. Biasanya pasien dengan batuk bandel sudah berkeliling berobat ke banyak dokter umum maupun spesialis.

Pada orang dewasa, jika ditemukan gejala batuk yang bandel, dugaan penyakit penyebab pertama adalah tuberkulosis (tb). Dugaan ini sering diterapkan pada anak juga.

Pemeriksaannya berupa foto rontgen dengan penafsiran sangat subyektif. Kemudian, bisa diduga ada “flek” dalam parunya sehingga diterapi tb. Jika ternyata asma, maka usia pengobatan tb, batuknya akan tetap ada.

Perlu mengubah paradigma pemikiran jika menemui anak dengan batuk yang bandel. Pertama, pikirkan kemungkinan ke arah asma, bukan Tb. Tb. pada anak bisa memberi gejala batuk, namun bukan utama. Hal yang mendukung ke arah asma diantaranya :

Batuk timbul jika terpajan dengan faktor pencetus yang banyak sekali bentuk dan macamnya. Ada yang dari lingkungan rumah, berupa debu, asap rokok, kapuk, atau bulu binatang. Faktor lain yang biasanya teramati orang tua berbentuk makanan, misalnya permen, cokelat, makanan ringan mengandung vetsin, gorengan, es, atau kacang. Pencetus lainnya adalah flu, aktivitas fisik berlebihan hingga lelah, atau perubahan cuaca.

Batuk asma pada anak memberikan ciri lain yang lebih berat pada malam atau dini hari. Terkadang, perbedaan intensitas batuk pada siang dan malam hari, demikian ekstrem. Siang, tanpa batuk sama sekali, lalu malam justru hebat sampai anak tidak bisa tidur. Tentu orang tua ikut terganggu tidurnya. Akibatnya anak mengantuk di sekolah, dan orang tuanya mengantuk saat bekerja.

Sebagian besar asma didasari faktor alergi. Jadi, asma merupakan satu bentuk penyakit alergi. Dalam riwayat keluarga, biasanya ditemui asma, serta bentuk lain penyakit alergi, seperti eksim, pilek alergi, atau alergi obat maupun makanan. Kalau perlu, ditelusuri riwayat keluarga besar sampai buyut, kakek, paman, sepupu, dan seterusnya.

Hal yang diturunkan adalah bakat alerginya, namun manifestasinya bisa berbeda. Warisan bakat ini pun bisa lompat generasi. Misalnya, kakek mengidap alergi obat, anaknya mungkin tak memiliki manifestasi alergi, baru pada cucunya timbul penyakit tersebut.

Hal lain yang memperkuat diagnosis asma ialah respons yang baik dengan obat asma. Sering karena tidak terdiagnosis asma, pasien dengan batuk bandel diberikan obat penekan batuk, tapi bentuknya malah kian menjadi. Pasien asma memang tidak boleh diberikan obat tadi. Pasien akan mereda batuknya jika diberikan obat asma.

Untuk mengonfirmasi diagnosis asma, perlu dilakukan pemeriksaan khusus berupa uji fungsi paru. Untuk melaksanakannya, pasien perlu melakukan jurus yang cukup kompleks. Biasanya, anak berusia dibawah tujuh tahun belum mampu melakukannya sehingga pemerikssaan ini terbatas digunakan pada anak kecil.

Apabila ditemukan anak dengan batuk yang bandel disertai beragam fakta yang menunjang seperti di atas, anak dapat didiagnosis sebagai asma. Jika diagnosisnya tepat, tinggal masalah manajemennya.

oleh : Darmawan Budi S

Seputar Mitos tentang Asma Pada Anak

Seputar Mitos Asma Pada AnakKita sering mendengar banyak pendapat atau mitos turun–temurun mengenai penyakit asma pada anak. Namanya juga mitos, ada yang memang secara medis benar, tetapi sebagian besar tidak benar sehingga menyebabkan pemahaman yang salah tentang asma. Berikut ini adalah mitos-mitos seputar penyakit asma pada anak, disertai pembahasan kebenaran mitos tersebut.

1. Asma merupakan penyakit menular

Tidak benar. Penyakit menular adalah penyakit yang disebabkan oleh masuknya bibit penyakit ke dalam tubuh dan dapat ditransmisikan ke orang lain. Asma bukan merupakan penyakit menular sehingga penderita asma tidak perlu dijauhi.

2. Asma merupakan penyakit keturunan

Memang benar bahwa seringkali didapatkan orangtua yang menderita asma anaknya kemudian juga menderita asma, namun tidak selalu terjadi demikian. Terkadang orangtua penderita asma, anaknya bukan atau sebaliknya. Asma merupakan salah satu manifestasi penyakit alergi. Sifat alergi inilah yang diturunkan dari orangtua ke anaknya tetapi bentuk penyakit alerginya tidak selalu sama. Manifestasi alergi yang muncul bisa bermacam-macam, misalnya kaligata (biduran), alergi seafood, alergi obat, pilek alergi (rinitis alergi), eksim, sedangkan bila bermanifestasi di saluran pernapasan bisa terjadi asma. Sehingga kadang orangtua alergi obat, anaknya menderita asma.

3. Pergi ke pantai dapat menyembuhkan asma

Tidak benar. Tinggal di daerah pantai yang udaranya bersih memang bisa membuat penderita asma terkontrol gejalanya sehingga kelihatan sembuh. Bila hanya sekali-sekali saja pergi ke pantai tidak berarti asmanya akan sembuh.

4. Asma tidak dapat disembuhkan

Benar dalam artian sifat alerginya akan terus menetap. Penderita asma yang terkontrol gejala asmanya dapat hidup dan beraktivitas seperti orang normal lainnya dalam waktu yang cukup lama. Namun demikian, bila suatu saat terpajan dengan pencetus dapat saja terjadi serangan asma kembali.

5. Bila sejak awal tidak diperkenalkan dengan es atau coklat maka sewaktu besar anak menjadi rentan jika mendapat es/coklat tersebut
Tidak benar. Seorang anak yang setiap minum es atau makan coklat timbul serangan batuk/sesak bukan karena tidak dibiasakan sewaktu kecil, tetapi pada dasarnya ia telah mempunyai riwayat alergi sehingga kedua hal tersebut menjadi faktor pencetus terbangkitnya reaksi alergi dalam tubuhnya. Bila memang hal itu terjadi maka untuk menghindari timbulnya serangan asma maka anak tersebut sebaiknya juga dihindarkan dari kedua hal tersebut.

6. Berenang dapat menyembuhkan asma
Tidak benar. Berenang merupakan salah satu olahraga yang dianjurkan untuk pasien asma, tetapi tidak berarti asmanya akan sembuh dengan berenang. Olahraga lain yang dapat meningkatkan kebugaran tubuh pasien akan sangat bermanfaat bagi pernapasan pasien.

7. Obat hirupan hanya digunakan untuk asma yang berat
Tidak benar. Ada obat hirupan yang ditujukan untuk meredakan serangan dan ada yang untuk pengendali. Anak dengan asma yang hanya sekali-sekali mendapat serangan ringan dapat menggunakan obat hirupan untuk meredakan serangannya.

8. Obat hirupan yang dipakai setiap hari dapat menimbulkan adiksi (ketergantungan)
Tidak benar. Obat asma hirupan tidak mengandung obat yang menyebabkan ketergantungan atau adiksi. Penghentian pemakaian obat pengendali hirupan yang tidak tepat dapat mengakibatkan serangan asma, tetapi bukan karena adiksi melainkan karena asmanya belum terkontrol.

9. Anak dengan asma tidak boleh berolahraga
Tidak benar. Anak dengan asma dapat berolahraga seperti teman sebayanya, namun bila serangan asmanya sering dipicu oleh aktivitas fisik maka dalam berolahraga harus didahului dengan pemanasan (warming-up) dan diakhiri dengan pendinginan yang baik. Bila perlu dapat memakai obat dahulu sebelum berolahraga. Selain itu perlu berhati-hati dalam olahraga yang perlu kecepatan tinggi misalnya sprint atau balap sepeda.

10. Steroid dalam obat hirupan dapat menyebabkan pengeroposan tulang atau maskulinisasi
Tidak benar. Steroid dalam obat hirupan untuk pengendali asma berbeda dengan steroid yang banyak digunakan oleh atlet untuk memperbesar ototnya. Dosis steroid hirupan yang digunakan juga sangat kecil sehingga efeknya tidak seperti bila steroid diberikan melalui obat minum atau suntikan. Penggunaan steroid hirupan jangka panjang sudah terbukti aman dan tidak menimbulkan efek samping berbahaya. Bila saat serangan diperlukan steroid yang diminum atau disuntik, pemberiannya hanya 3-5 hari sehingga tidak didapatkan efek samping pula.

Nah, jadi jelaskan bahwa banyak mitos yang selama ini diyakini ternyata keliru. Oleh sebab itu ubahlah pandangan yang salah tentang asma sehingga penanganan anak asma bisa tercapai secara lebih baik. Semoga bermanfaat ! Penulis : Nastiti Kaswandani IDAI.or.id