Kuning pada bayi baru lahir umumnya terjadi karena peningkatan bilirubin indirek. Keadaan ini sebagian besar dapat menghilang dengan penyinaran, oleh sebab itu tidak jarang kita temukan ibu dengan bayi kuning diberi nasehat untuk menjemur-jemur bayinya pada pagi hari guna mempercepat turunnya kadar bilirubin indirek tersebut. Di lain pihak, pada beberapa kasus tidak jarang kita temukan bahwa pasien dengan ikterus datang kembali pada usia beberapa bulan kemudian sudah dengan sirosis bila dokter melupakan kemungkinan atresia bilier pada kasus ikterus tersebut. Kadang-kadang kita dikejutkanbayi tersebut datang dengan perdarahan kepala akibat defisiensi vitamin K yang umumnya terjadi pada bayi kolestasis. Keadaan yang memerlukan perawatan intensif ini sebetulnya dapat dihindari bila saja kita waspada akan kemungkinan kolestasis pada pasien kuning kita.
Kapan sebetulnya masih aman di katakan bahwa kuning ini karena peningkatan bilirubin indirek, dan masih boleh terus di anjurkan dijemur? Para ahli hati anak umumnya menganjurkan bahwa usia 2 minggu adalah waktu yang tepat untuk melakukan pemeriksaan untuk membedakan apakah kuning ini disebabkan peningkatan bilirubin indirek atau karena bilirubin direk. Penilaian yang perlu dilakukan dimulai dengan anamnesis, pemeriksaan fisis, dan pemeriksaan laboratorium.
Anamnesis
Umumnya ditanyakan bagaimana warna urin. Warna urin pada peningkatan bilirubin direk dalamĀ darah yang kita kenal sebagai kolestasis umumnya kuning tua atau sedikit lebih tua dari biasanya. Pada bayi mungkin saja tidak ditemukan warna kuning tua karena volume urin bayi umumnya cukup besar sehingga mungkin ada efek dilusi bilirubin dalam urin. Selain itu ditanyakan warna feses. Pada kolestasis dapat dijumpai warna feses yang pucat seperti dempul, dapat terus menerus atau berfluktuasi.
Pemeriksaan fisis
Pemeriksaan fisis perlu difokuskan pada penampilan umum pasien, berat badan panjang badan dan lingkar kepala. Pasien dengan kelainan metabolik atau neonatal hepatitis umumnya terlihat kecil sedangkan atresia bilier umumnya besar seperti anak normal saja. Hal yang terakhir ini sering kali mengecoh klinisi untuk cenderung mengatakan kuning pada bayi tersebut hanya memerlukan penyinaran pagi hari saja. Ukuran kepala yang kecil mengarahkan kemungkinan terjadi infeksi kongenital. Mata perlu diperiksa apakah selain ikterik, terlihat katarak yang mengarah ke galaktosemia. Pemeriksaan jantung kadang-kadang menyertai kelainan kolestasis tertentu. Hati perlu diperiksa ukurannya yang dapat membesar tetapi dapat pula masih normal saja. Kadang-kadang ditemukan splenomegali.
Pemeriksaan laboratorium
Untuk menghemat dana, pada awalnya cukup dimintakan pemeriksaan bilirubin direk darah saja, kecuali terdapat kecurigaan kuat bahwa kasus tersebut adalah kasus kolestasis. Bila ditemukan bahwa bilirubin direk meningkat > 1,5mg/dl dan komponen bilirubin direk tersebut merupakan > 15% dari bilirubin total yang meningkat maka dapat kita katakan pasien tersebut dengan kolestasis. Bayi dengan peningkatan bilirubin direk sangat mungkin menderita kelainan hepatobilier dan memerlukan pemeriksaan selanjutnya.
Bila dari hasil pemeriksaan darah terbukti kolestasis maka diperlukan pemeriksaan lebih lanjut untuk mencari penyebab kolestasis tersebut. Pemeriksaan tersebut antara lain: pemeriksaan darah ALT (SGPT), AST (SGOT), gamma glutamyl transpeptidase (GGT), albumin, globulin, kolesterol total, trigliserida, glukosa, ureum, kreatinin, waktu protrombin/INR. Bila mungkin pemeriksaan hornomal seperti FT4, TSH dapat pula diperiksakan. Pemeriksaan urin rutin dan kultur urin perlu dilakukan. Pemeriksaan USG 2 fase dan mungkin biopsi hati perlu dilakukan. Kecepatan penanganan kolestasis terutama pada atresia bilier sangat menentukan prognosis bayi karena operasi Kasai dapat dilakukan sebelum ditemukan sirosis hepatitis idealnya sebelum usia 8 minggu.