Manfaat Radiologi pada Anak

mri_scan_child

mri_scan_child

Penggunaan alat diagnostik pencitraan / radiologi yang terdiri atas rontgen konvensional, ultrasonografi (USG), CT-SCAN, dan MRI sudah dikenal baik para dokter sebagai sarana penunjang diagnostik klinis.

Dalam rumah sakit khusus pediatri ini tidak terhindarkan lagi terjadinya konsentrasi dokter anak. Mereka bertemu baik formal maupun informal sehingga terjadilah tukar-menukar informasi, baik pengenai ilmu maupun teknik baru untuk menjawab berbagai tantangan.

Kemajuan dan meluasnya ilmu pediatri menyebabkan para dokter anak terpaksa membatasi diri dalam bidang ilmu yang lebih sempit lagi seperti gastroenterologi, urologi, nefrologi, kardiologi, alergi, hemtologi, dan endokrinologi.

Pada saat yang sama, kebutuhan untuk pemeriksaan khusus dan pengobatan kasus bedah pada anak menjadi kenyataan, terutama pada neonatus di berbagai pusat pediatri di AS, dan rontgenologi pediatri, suatu keahlian yang dapat dikatakan sebagai bentuk percabangan ilmu pediatri yang sedang maju dengan pesat.

Berkat peran radiografi, banyak pengetahuan baru saat ini yang ditemukan dalam pediatri seperti: pertama, hidroscfalus (kelainan yang dikenal melalui teknik pneumoensefalografi). Kedua , kista dalam paru bayi dan anak yang sebagian besar diketahui sebagai lesi yang tidak ganas dan akan menghilang sendiri. Hal ini diketahui berkat dilakukannya pembuatan foto sinar-X secara serial.

Ketiga, visualisasi rektum atau sigmoid yang sempit penyebab kelainan obstruktif usus besar yang diketahui dengan melakukan enema dengan zat kontras. Keempat, keberhasilan pengobatan infeksi saluran kemih karena diketahuinya kelainan pada ginjal dan saluran kemih berkat pemeriksaan pielografi intravena serta masih banyak contoh yang sifatnya membuka jalan dalam diagnosis dan pengobatan penyakit anak.

Pencitraan (radiologi) anak sampai saat ini masih merupakan penggabungan ilmu kesehatan anak dengan ilmu fisika radiologi, teknik dan pengelolaan pencitraan dengan tujuan mendiagnosis penyakit penyebab gangguan tumbuh kembang pada anak sampai akil balig.
Penggunaan alat diagnostik pencitraan antara lain pada:

  1. Sindrom gawat napas pada pencitraan (SGNN)
    Penyebab gangguan pernapasan pada bayi baru lahir diketahui secepatnya sehingga jenis tindakan dapat segera dilaksanakan. Gangguan pernapasan pada bayi baru lahir ini juga disebutkan SGNN karena merupakan kumpulan beberapa keadaan klinik yang mempunyai gejala yang sama, yaitu kesulitan dalam ventilasi paru.
    Pemeriksaan pencitraan pada SGNN harus sudah dibuat sedini mungkin dan pada umumnya dengan cara radiografi konvensional seperti foto dada (toraks), sehingga jenis penyebab SGNN dapat diketahui dengan cepat.
  2. Pendarahan pada otak
    Diagnosis pendarahan berdasarkan klinik dan pemeriksaan penunjang seperti pemeriksaan darah tepi, kadar natrium dalam darah, hasil fungsi lumbal, pemeriksaan elektroensefalografi (EEG), dan pemeriksaan pencitraan seperti USG dan CT-Scan.

Pemeriksaan tomografi komputer (CT-Scan) memberikan informasi mengenai proses infrakranial. Akan tetapi, pemeriksaan ini memerlukan waktu cukup lama dan kadang-kadang diperlukan sedasi. Selain itu, pemeriksaan tidak dapat dilakukan dalam bangsal sehingga memerlukan transportasi yang mungkin dapat memperburuk keadaan neonatus yang sakit berat akibat hipotermia, hipoksia, risiko infeksi, trauma, dan bahaya radiasi.

Penggunaan USG oleh ahli USG dan pada klinis sudah disepakati sebagai pemeriksaan yang noninvansif, dan tidak ada radiasi bila dibanding dengan tomografi komputer, khusus pada pendarahan subependimal, pendarahan perventrikuler pada bayi prematur sensitivitas USG adalah baik sekali. Selain itu, pemeriksaan dapat dilakukan dalam ruang perawatan, tidak perlu keluar dari inkubator.

MRI juga bisa dilakukan untuk melihat lebih jelas aktivitas pendarahan dan struktur perenkim otak, hanya biaya pemeriksaan masih sangat mahal. Sumber : IDAI.or.id