Otak adalah organ vital yang merupakan pusat berpikiran / nalar. Di organ ini juga terdapat berbagai pusat vital seperti pusat pernapasan dan pengindraan. Sebagian besar struktur otak terdiri atas le,ak (60%), selebihnya protein, hidrat arang, dan mineral.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kekurangan beberapa nutrien (zat gizi) mempunyai dampak negatif terhadap proses pertumbuhan kembang otak. Jaringan saraf mulai dibentuk antara minggu ke-2 dan ke-3 setelah terjadinya konsepsi.
Fase tumbuh pesat otak berlangsung mulai trisemester ketiga kehamilan hingga anak berusia sekitar 2 tahun. Periode ini merupakan masa rawan terhadap stres atau kekurangan gizi yang dapat berdampak permanen.
Pada waktu lahir, berat otak adalah kurang lebih 350 gram atau 10% berat lahir dan hingga usia setahun terdapat penambahan berat otak sebesar kurang lebih 750 gram sehingga pada usia ini berat otak tiga kali berat otak waktu lahir atau tetap 10% dari berat badan. Pada orang dewasa berat otak 2,5% dari berat badan. Untuk proses penambahan ini diperlukan 60% dari kebutuhan energi dalam makanan bayi.
Nutrisi pada bayi / anak
Anak membutuhkan energi dan protein per kilogram berat badan lebih banyak daripada orang dewasa karena anak masih bertumbuh dan berkembang. Selain itu, nutrisi yang dikonsumsi harus seimbang. Artinya, jumlah protein, hidrat arang, dan lemak masing-masing merupakan 10-20%, 50-60%, dan 20-30% dari kalori yang dibutuhkan.
Kelengkapan nutrien dalam makanan merupakan hal yang mutlak dengan jumlah yang sesuai dengan angka kecukupan gizi.
ASI (air susu ibu) merupakan makanan pertama dan utama serta terbaik bagi bayi segera setalah lahir, dan umumnya dapat secara tunggal memenuhi kebutuhan bayi sampai usia 6 bulan (ASI ekslusif).
ASI mengandung semua nutrien yang dibutuhkan bayi termasuk zat gizi spesifik untuk tumbuh kembang otak. Kesulitan makan sering kali terjadi setelah anak berusia di atas setahun, yaitu saat peralihan dari makanan bayi ke makanan kelarga. Hal ini perlu segera diatasi mengingat tumbuh kembang otak masih berlangsung sampai usia 2 tahun.
Dari hal tersebut di atas, jelas nutrisi pada saat tumbuh kembang otak berlangsung pesat, sangat perlu diperhatikan. Kekurangan nutrisi saat-saat itu dapat berdampak negatif, serta mungkin menimbulkan defisit yang menetap, sehingga mengurangi kualitas SDM dikemudian hari.
Selain gizi seimbang dan sesuai kebutuhan, beberapa nutrien diperlukan secara khusus seperti asam lemak terutama asam lemak esensial, protein/asam amino, vitamin B1, B6, dan asam folat, serta yodium, zat besi dan seng.
Asam lemak esensial berupa asam linoleat (omega-6) dan asam linoleat (omega-3) yaitu asam lemak yang tidak dapat disintesis tubuh, harus dipasok menjadi DHA (decosahexaenoic acid) dan AA (arachidoc acid) yang berperan sebagai penunjang tumbuh kembang otak.
Pada penelitian terbukti bahwa bayi yang mendapat ASI, kandungan asam lemak esensial dan DHA pada jaringan otaknya lebih tinggi daripada bayi yang mendapat susu formula biasa yang tidak diperkaya dengan DHA.
Ternyata pula bahwa DQ (development quotient) pada usia 18 bulan lebih tinggi, juga IQ (intelligent quotient) bayi ASI lebih tinggi daripada bayi yang tidak mendapat ASI.
Asam lemak esensial ini merupakan asam lemak tidak jenuh rantai panjang dan banyak terdapat antara lain pada minyak jagung, minyak bunga matahari (sunflower oil), minyak kedelai, safflower oil, canola oil.
DHA juga berperan pada ketajaman penglihatan. Bayi yang minum susu formula tanpa DHA ketajaman penglihatannya kurang, dibandingkan bayi ASI.
Fungsi penglihatan dapat dipastikan sangat berperan dalam perkembangan kepandaian/keserdasan anak. By IDAI.or.id