
baby fart
Kentut sebenarnya pengeluaran gas yang berlebih dari dalam usus, melalui anus. Volume, frekuensi dan komposisinya ditentukan oleh beberapa hal yaitu usia seseorang, faktor keturunan, adanya tekanan jiwa, obat-obatan tertentu seperti antibiotika, dan pola makan seseorang. Menurut penelitian, volume kentut yang diproduksi manusia normal bervariasi antara 400 sampai 1600 milileter per hari. Sedang frekuensi yang masih dianggap normal sekitar 14 kali sehari.
Ada beberapa mekanisme pembentuk gas di dalam usus yang berhubungan dengan pengeluaran gas tersebut, yaitu:
- Fermentasi bakteri
Usus halus biasanya relatif steril, artinya tidak terlalu banyak kuman di dalamnya. Tetapi didalam usus besar (colon). terdapat banyak sekali kuman yang dalam keadaan normal tidak menimbulkan penyakit. Untuk dapat hidup, kuman-kuman tersebut juga perlu makan.
Proses pencernaan dan penyerapan makanan seluruhnya terjadi di dalam usus halus. Bila ada makanan yang tidak dicerna dan diserap, maka akan didorong ke dalam usus besar. Makanan yang tidak dicerna sampai tuntas oleh usus manusia. Misalnya saja selulosa, stakiosa dan rafinosa. Selulosa merupakan dinding sel tumbuh-tumbuhan, oleh karena itu banyak terdapat pada bahan makanan yang berasal dari tumbuhan seperti sayuran. Sedang stakiosa dan rafiosa, banyak terdapat pada kacang merah.
Sisa makanan yang ada di dalam usus besar ini merupakan makanan bagi bakteri. Oleh karena itu, terjadilah fermentasi dan sebagai akibatnya terbentuklah sejumlah gas. Jadi jelaslah, makanan yang kita makan akan menentukan produksi gas di dalam usus. Makin banyak makanan mengandung bahan yang tidak dapat dicerna usus, maka semakin banyak terjadi fermentasi oleh bakteri dan produksi gas meningkat. - Menelan udara
Gas yang berada di dalam usus juga dapat berasal dari udara luar. Udara itu sendiri dapat masuk karena tertelan akibat aktivitas makanan, tekanan jiwa, kebiasaan mengunyah permen karet, pemasangan gigi palsu yang kurang tepat dan merokok. - Merembesnya gas dari aliran darah (difusi)
Masuknya gas ke dalam usus dari peredaran darah dan jaringan di sekitarnya biasanya tidak banyak berperan. Tetapi hal ini terkadang amat penting untuk orang-orang tertentu, seperti pendaki gunung dan para astronot.
Tekanan jiwa diduga berperan dalam menimbulkan berlebihnya produksi gas di dalam usus. Keadaan ini menimbulkan waktu singgah (waktu yang dibutuhkan saluran cerna untuk melewatkan makanan dari mulut sampai anus) lebih cepat. Akibatnya akan lebih banyak makanan yang tidak dicerna masuk ke dalam usus besar sebagai bahan untuk fermentasi bakteri. Bahkan tekanan jiwa akan menyebabkan tertelannya udara secara berlebihan (aerophagia).
Ada yang berbau dan tidak
Karena baunya, kentut dianggap mengganggu orang sekeliling. Sebenarnya tidak semua kentut berbau. Kentut yang tidak berbau terdiri atas lima komponen gas, yaitu gas nitrogen, oksigen, hidrogen, methane, dan karbondioksida. Kelima gas ini sebenarnya merupakan porsiterbesar dalam kentut. Lain halnya dengan kentut yang berbau. Di dalamnya terdiri atas gas yang berbau yaitu skatol, indol, hidrogen, sulfida, amines dan asam-asam lemak rantai pendek. Gas-gas ini walaupun terdapat dalam jumlah kecil, dapat menimbulkan bau yang menusuk hidung. Bau yang menusuk ini akan lebih dipertajam lagi kalau makanan yang dikonsumsi berbau tajam seperti pete dan sebagainya.
Mengurangi kentut
Dari sekian banyak penyebab meningkatnya kentut, faktor pola makanan agaknya memainkan peranan paling besar. Yaitu, kalau pola makanan agaknya memainkan peranan paling besar. Yaitu, kalau pola, makannya banyak mengandung bahan-bahan yang tidak dapat dicerna. Untuk mengatasi hal itu tentu saja harus mengurangi makanan jenis tersebut. Penelitian para ahli menunjukkan bahwa seseorang yang makan makanan yang mengandung 2,4 gram serat per hari akan memproduksi kentut sebanyak 26,7 mililiter per jam. Sedang serat sebanyak 9,4 gram, akan memproduksi kentut menjadi 49,4 mililiter per jam.
Puasa jelas akan mengurangi frekuensi kentut, karena akan mengurangi bahan untuk fragmentasi oleh bakteri, Mengurangi serat (selulosa) dalam pola makan tentu akan mengurangi frekuensi tersebut, sebab selulosa merupakan bahan yang tidak dapat dicerna usus manusia. Bagi mereka yang tidak tahan susu juga akan mengalami kentut, atau bahkan diare. Untuk mengurangi kentut tersebut sebaiknya menghindari susu dan makanan lain yang merupakan produk susu seperti keju. Tentu saja mereka masih dapat menerima “yogurt” sebagai gantinya. Makanan berkadar lemak tinggi sebaiknya juga dikurangi.
Bila perubahan pola makan tidak berhasil mengurangi frekuensi kentut, ada baiknya dikonsultasikan ke dokter. Ada beberapa jenis obat yang dapat diberikan dokter untuk keluhan tersebut. Tetapi ada baiknya juga sebelum mencoba berbagai obat gunakanlah norit yang mungkin dapat menyerap gas-gas di dalam usus.
Kentut dan gangguan tubuh
Ada beberapa penyakit yang dapat disertai dengan peningkatan produksi gas di dalam usus. Misalnya saja gangguan penyerapan makanan (sindroma malabsorpsi), diare kronik yang disebabkan oleh parasit jenis tertentu (giardiasis), tukak lambung (ulkus peptikum), dan batu kandung empedu (kolelitiasis). Untuk memastikan apakah penyakit ini menyerang anak, konsultasikan dengan dokter yang biasa menangani anak itu. sumber IDAI.or.id