Pencegahan Penyakit Jantung sejak Usia Dini

Pencegahan Penyakit Jantung sejak Usia Dini

Pencegahan Penyakit Jantung sejak Usia Dini

Terdapat beberapa faktor risiko terjadinya penyakit jantung koroner pada usia dewasa. Namun, pada prinsipnya dapat dilakukan upaya pencegahan sejak anak-anak atau usia dini.

Penyakit jantung koroner (PJK) sendiri merupakan penyakit jantung yang terjadi akibat penyempitan pada arteri koroner di jantung.

Faktor-faktor risiko penyebab jantung koroner adalah obesitas (kegemukan), hiperkolestrolemia (kadar kolesterol yang terlalu tinggi), merokok (aktif dan pasif), aktivitas fisik yang kurang, dan hipertensi.

Data patologis dari beberapa penelitian menunjukkan bahwa proses aterosklerosis terjadi sejak usia anak-anak. Perubahan pada dinding dalam pembuluh darah hampir selalu ditemukan pada usia 20 tahun, dan akan menjadi plaq (fibrous plaque) sejak dekade kedua kehidupan. Prosesnya berjalan perlahan namun pasti.

Belakangan ini tampak kecenderungan PJK sudah mulai ditemukan pada usia relatif muda. Tren saat ini adalah ditemukan banyak anak yang obesitas, anak-anak dan remaja yang merokok.

Bagaimana hubungan makanan yang dikonsumsi anak dengan proses terjadinya aterosklerosis di masa datang?

Pola makan dan jenis makanan tentu akan banyak mempengaruhi terjadinya kegemukan dan peningkatan kadar kolesterol. Karena manifestasi klinis PJK pada orang dewasa memerlukan waktu lama dari proses aterosklerosis, maka selayaknya deteksi faktor risiko PJK dilakukan sejak usia dini, masa bayi, anak, dan remaja.

Makanan anak akan mempengaruhi kadar kolesterol dalam darah. Untuk mengendalikan kadar kolesterol dapat dilakukan dengan diet sesuai rekomendasi American Heart Asociation (AHA) sebagai berikut; Makanan bervariasi, cukup kalori untuk pertumbuhan, dan pemeliharaan lemak tidak melebihi 30%, total kalori polyunsaturated fatty acid (PUFA) minimal 10%, total kalori konsumsi kolesterol kurang dari 300 mg. Hal tersebut adalah strategi umum yang harus kita kerjakan.

Strategi khusus individual ditujukan pada anak-anak dengan riwayat PJK dini (umur kurang 55 tahun) pada orang tua, nenek, kaker, paman, dan keluarga dekat lainnya dengan hiperkolesterolemia. Anak dengan hiperkolesterolemia memerlukan intervensi nutrisi, pemantauan kadar kolesterol, penyuluhan gizi, dan identifikasi interaksi dengan faktor risiko lainnya.

Anak yang kegemukan perlu dilakukan pemeriksaan kolesterol pada umur di atas dua tahun untuk mengetahui apakah ada faktor risiko lain seperti hiperkolesterolemia.

Merokok (aktif dan pasif)

Ada beberapa hal yang penting dalam hal merokok. Pertama, bila kebiasaan merokok dapat ditekan dalam masyarakat, akan terjadi penurunan kasus abortus dan bayi berat lahir. Kedua, baik perokok pasif maupun aktif akan sangat berpengaruh negatif terhadap sistem kardiovaskular serta tumbuh kembang anak dan remaja. Ketiga, kejadian awal merokok sejak masa anak-anak dapat diatasi dengan intervensi dini. Keempat, merokok yang telah dimulai sejak masa remaja akan menimbulkan kecanduan terhadap nikotin.

Telah terbukti bahwa merokok mempunyai hubungan dengan proses terjadinya aterosklerosis dini dan berkurangnya harapan hidup selama tujuh tahun.

Perubahan yang terjadi, baik pada perokok pasif maupun aktif adalah kerusakan dinding-dinding pembuluh darah (endotel), peningkatan kemampuan oksidasi LDL, penurunan kolesterol HDL, penurunan kinerja dan gangguan transportasi oksigen.

Upaya pencegahan merokok pada remaja jauh lebih sulit dibanding dengan orang dewasa. Data kebiasaan merokok pada orang tua harus tercantum dalam rekam medis anak, harus ditanyakan dan dicatat sehingga terkesan penting.

Jelaslah bahwa kebiasaan merokok pada remaja harus segera dihentikan bila kita mengharapkan anak-anak kita sehat di kemudian hari.

Meskipun tidak ada data yang pasti mengenai jumlah perokok di Indonesia, secara kasatmata kita dapat melihat bahwa sangat banyak orang Indonesia yang merokok. Di mana-mana orang masih banyak yang merokok sehingga tidak jarang sangat mengganggu.

Kecenderungan makin banyak anak-anak remaja merokok yang terlihat saat ini sulit untuk disangkal. Tampaknya sudah waktunya pemerintah mengeluarkan aturan dan sanksi yang lebih berat mengenai para perokok di tempat umum (mal, bus, stasiun, dan tempat-tempat lain). Sumber IDAI.or.id